Karyaku

Sajak Anak Negeri

Melaju bangsaku menyongsong dua satu
menyusul pabrik dan industri maju
teknologi canggih dan gedung-gedung
yang kian hari kian menjulang
Aku tersenyum bangga, gembira karena terlahir di tanah air

Kutatap langit yang tiada bertepi
Mataku silau oleh teriknya mentari
oleh kilauan dinding-dinding
gedung tinggi, lalu aku tertunduk
Menatap bumi yang seakan meronta
Aku pergi ke lain sisi
marah, jengkel, benci,
kecewa pada diriku sendiri

Aku bercermin,
wajahku dihiasi rona lusuh
dan kusutnya pinggiran kota,
tubuhku beraroma busuknya kolong jembatan
kulitku diwarnai hitamnya air sungai,
kelam menyengat bagai sop cumi-cumi
yang disimpan bermalam-malam
dan kepalaku dipenuhi berjuta beban
berat, lebih berat dari memikul
sekarung beras tunjangan
Aku mendongak,
tampak olehku Merah Putih berkibar
aku terhenyak, kepalaku dilintasi rasa
haru, lalu rasa sesal menderu bagai
tembusan peluru, aku berseru
berteriak, aku jauh di belakang
tertinggal, bahkan mungkin tak punya
peringkat untuk bisa turut berbangga
aku hanya sepeda reyot yang harus
menepi dari lintasan mobil-mobil
berkelas tinggi, hanya suara
gesekan besi tua di antara deruan
mesin-mesin canggih dan lengkingan
suara klakson, aku terjebak dalam
kebisingan, kepanikan, terperangkap
dalam ruang seribu cabang
apakah aku harus maju atau mundur,
atau melalui jalan samping?

Tidak, aku tidak boleh kalah
Tapi dengan apa aku bisa menang?
Apakah dengan menyebut ”Kasihanilah Tuan”
ataukah dengan mencuri tangga lalu
menerobos ke atas?
dengan kerah baju dihiasi dasi dan
dengan senyum manis berjalan di atas
kolusi dan korupsi?

Tidak, itu tak boleh kulakukan pada
bangsaku. Kelak, pertiwi ini tak akan
sudi menerima jasadku, bahkan rutan-rutan
sun tak akan punya tempat untukku
terlalu besar dosaku…..

Dalam bangsa ini, di atas negeri ini,
dalam dekapan tumpah darah, dan
belaian Merah Putih,
aku sangat kaya, kaya rasa bangga dan
cinta, yang tak bisa diganti walau
dengan uang berpeti-peti

Aku tersenyum,
kubelai bayangan di cermin,
bagaimanapun aku, dimanapun aku,
siapapun aku, aku tetap
anak negeri

Bali Post, 24 Mei 1998

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: