Jendela – Jendela

Kembang Kertas

Membuai ringan alam pandangan, menurut rayuan sang bayu, menuai duka dari setiap rintih hujan. Dia menari, mengejekku dari alam mimpi.

Bali Post, 28 November 1999

Tergugah

Buaian lembut dua matahari menghangatkan jiwaku. Aku berlabuh melepas keletihan berkelana, mencari segores cerita yang belum bertemu juga. Kini kudengar burung berkicau begitu manis, melontarkan rayuan alam untuk ikut terlena dalam dunianya. Begitu setia ia menemani pagi hari ini. Adakah dia berkicau juga untuk pagi di belahan yang lain? Aku cemburu dan takut kicauan itu akan membawaku terlibat permainan.

Bali Post, 28 November 1999

Warna Malam

Kubingkai putih hatimu dengan jari emasku. Seketika saja malam membawamu pulang ke istanaku. Hatiku luluh, kau teduhkan dengan cahaya biru. Mungkin ilusi yang lalu kini telah kugenggam setelah kau rangkai serumpun warna, menghiasi malam-malam yang kujelang. Dan kusematkan hiasan di rambutku, mereguk bahagia tentang betapa indahnya dirimu.

Bali Post, 28 November 1999

Menyapa Bintang

Hamparan debu menjadi permadaniku. Di bawah beringin ketika malam menelan cerahnya dunia. Angin bicara pada daun-daun yang beringas menyerbu serpihan alam di bawahnya. Seutas kekaguman memuji tarian dahan. Senyum-senyum bernyanyi, melagukan nyanyian ilham yang mendesak untuk diucapkan.

Malam ini kusapa bintang-bintang tanpa halangan.

Bali Post, 28 November 1999

Nyanyian Mawar

(curahan hati kepada ibu)

Dia membawa hatiku, Ibu. Menyeberangi sungai terdalam, dan mengintip ikan-ikan menari. Lagu-lagunya tiadalah merdu. Tapi entahlah, Ibu. Suaraku turut bergema oleh petikan gitarnya yang syahdu. Betapa gundah, bila kuterjaga dari waktu yang menganga di ambang jalanku pulang. Mulailah jantungku berirama tak karuan. Aku dilanda keresahan, Ibu. Bila laku anakmu tiada bertandang di ujung tatapnya. Inginnya aku berlari saja, mencuri-curi sejumput angan dan kuselipkan di bawah bantal, sebagai bekalku dalam perjalanan ke ruang tidurku. Dan bila terbangun, selalu kuterkenang harum cakapnya, Ibu. Seperti rekah melati pagi hari yang kau sunting di rambutku, dan merdunya kidung mawar di taman hatiku.

Bali Post, 16 Januari 2000

Rumah Kita

:rusmila, desy, parya

Aku pulang. Dengan akhir cerita yang kubawa dari kejauhan. Langkahku tertatih, tersaput lelah yang menganga, alirkan perih dan keringat. Tapi bunga-bunga di teras rumah kita, payungi jiwaku yang letih.

Aku pulang. Berteduh dalam kehangatan senyum dan wajah-wajahmu yang lugu. Kurebahkan tiang asaku yang patah dan dengan sentuhanmu, semoga bisa kurakit kembali dari waktu yang berkunjung.

Kepadamu, terima kasih.

Bali Post, 6 Februari 2000

Sebuah Akhir

telah kupetik cahaya itu

terlanjur kurayakan mimpi

tarikan angan

ditabuh kebisuan

telah kusiapkan tempayan

untuk menata puingpuing

bila air mata kan bernyanyi

dan tarianku membeku

aku berlutut di altar suci

aku yang tak berdaya

terjebak biru

terpuruk di bawah cahaya embun

aku bernyanyi

kupinta bintangbintang

mengurai malam

bangun kembali

rumah tua jiwaku

aku ingin pulang

Bali Post, 6 Februari 2000

Prosa Biru

Jalinan hati yang merambat di ruang waktu teduhkan debu-debu perjalananku. Untuk sebuah mimpi yang hadir tiba-tiba, kutambatkan derai kebahagiaan di setiap pucuk-pucuk yang tumbuh dari mulut hari. Nada yang berdentang membawa suaramu menembus cakrawala. Imajiku mendaki bukit-bukit yang berlaga, menyeberangi riak-riak kabut yang tersipu disapa kicauan burung-burung. Yang kutahu, hamparan biru yang berpadan langit itu membayangi sebuah dunia dimana senyum kita terurai. Ada kesan mendalam yang terkemas apik dari cerita kita. Suguhan hangat bagi hadirnya kenangan di lain hari, bila tiba saat kita membuka kembali syair-syair dari alunan angin. Aku selalu menantikan datangnya secercah cahaya fajar, di saat matahari akan mempertemukan bayang-bayang kita.

Bali Post, 6 Februari 2000

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: