Membuka Pintu

Prasasti Kegagalan

Tak pernah kurasakan makna sebuah perjuangan. Aku sendiri tak menyadari apakah aku pernah atau sedang berjuang. Entahlah. Tapi sejauh aku rasa aku telah berjuang. Hanya saja karena perjuanganku itu lekat dengan keseharian aku tak menganggapnya sebagai perjuangan.

Hingga akhirnya aku sampai pada puncak perjuangan itu meskipun belum setinggi puncak Everest. Aku pun menghadapi perjuangan yang benar-benar kurasakan sebagai perjuangan untuk masa depan. Selama sembilan tahun aku menyusuri jalan-jalan pendidikan, aku mengenal banyak sekali pahlawan perjuangan. Apalagi aku sendiri lahir di tanah perjuangan. Tapi baru kali ini aku bisa merasakan langsung bagaimana perjuangan itu.

Perjuangan itu ternyata tidaklah semudah bekerja lalu mendapat gaji. Ketika aku bercita-cita tinggi dan menggantungkan harapanku sepenuhnya pada perjuangan itu, yang telah memakan biaya banyak. Biaya yang kukumpulkan dari bantuan pemerintah dan juga hasil perjuangan berember-ember keringat orang tuaku setiap hari meskipun tidak sampai menandingi nilai dolar sekarang. Bahkan dari tarif rupiah pun nilainya tidak sebeapa.

Tapi biaya kecil yang sangat besar bagiku itu tinggal sejarah dalam buku tabunganku. Tapi aku tak mempermasalahkannya. Juga waktu yang kuhabiskan untuk mondar-mandir dari Gunung Agung sampai Ajendam atau dari Ajendam sampai Gunung Agung. Aku senang bisa merasakan perjuangan itu. Perjuangan dalam sejarah hidupku yang kuharapkan akan beroleh setetes air bagi kerongkongan-kerongkongan kering dalam keluargaku. Hanya saja kini perjuangan itu benar-benar menjadi sejarah. Sebuah kisah di balik puing-puing reruntuhan istana cita-citaku bagai persada Margarana yang dihancurleburkan oleh hujan peluru NICA 49 tahun yang lalu. Dan aku merasa bersalah karena tak ada yang bisa kusalahkan seperti pejuang-pejuang yang menyalahkan kekejaman NICA.

Baru saat ini pula aku lebih mengerti lagi makna perjuangan. Sesuatu yang kuusahakan dengan segenap kemampuan dan mengorbankan apa yang bisa kukorbankan. Dan kini aku pun tahu bahwa perjuangan tak selalu memberikan hasil yang kuharapkan. Aku keliru menilai perjuanganku. Aku terlalu yakin bahwa perjuanganku pasti berhasil apalagi hanya tinggal selangkah untuk memulai perjuangan yang baru. Tapi salah besar. Perjuangan itu menuntutku untuk siap menerima kegagalan.

Bali Post, 1998

Kosong

Kurajut detik

jadi jalan mentari

kurangkai hembus napas

jadi semilir angin

kucucur keringat

jadi derai hujan

kualir darah

jadi anak sungai

kutabur benih

jadi pohon melambai

kususur tapak

jadi langkah

kukuak tirai

mengungkap tabir

Tiada kisah

yang tersisa ‘tuk kujuang

Bali Post, 1998

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: