Menyunting Bulan Sabit

Syukur

Aku sangat tersanjung atas segala yang Kau berikan kepadaku. Atas segala keberuntungan yang Kau timpakan padaku terlebih pada saat-saat yang sulit. Atas segala buah dari daya upayaku yang mendatangkan kebahagiaan dan atas segala kesia-siaan dari peluhku karena aku tahu bahwa sebuah pelajaran tengah Kau selipkan khusus untukku di dalamnya. Atas segala pedih dan air mata yang Kau kenakan padaku sehingga aku tahu bagaimana merasakan pedih dan berlinang air mata jadi aku bisa belajar untuk tidak membuat orang lain menderita pedih dan meneteskan air mata.

Atas segala sukacita yang Kau izinkan aku untuk merasakannya sehingga aku mempunyai alasan untuk berusaha menghindari keputusasaan. Atas segala kekurangan yang Kau limpahkan sehingga aku dapat memahami dan melatih diri untuk menghargai setiap berkah. Atas segala kelebihan yang Kau anugerahkan sehingga aku akan selalu sadar untuk membaginya dengan orang lain. Atas segala musibah yang Kau bebankan di bahuku sehingga hidupku kuharapkan akan lebih ringan di kemudian hari. Atas segala selamat yang Kau sertakan dalam langkahku sehingga aku mampu menulis prosa ini untuk kupersembahkan padaMu. Terima kasih.

Bali Post, 28 November 1999

Doa

Tuhan

ketika seorang niluh

mohon padaMu

kupinta hanya sebuah nama

untuk kuelukan

agar reda semua bara

Tuhan

ketika seorang anak negeri

mohon padaMu

kupinta hanya sebuah suara

untuk kugema

agar diam segala sumbang

Tuhan

ketika seorang penyair pemula

mohon padaMu

kupinta hanya sebuah kata

untuk kuukir di setiap masa

damai ya Tuhan

damai Indonesiaku

Bali Post, 28 November 1999

Pulang

tanpa kusadari

lembayung

hanyutkan iramaku

hingga jauh

rambah riakriak

terlunta

butiran zaman

kaburkan cerminku

kugali cahaya

dari balik terali

dan kubaca sandisandi

yang samar tersembunyi

tunjukkan padaku jalan itu

telah lelah aku berpaling

Bali Post, 5 Maret 2000

Lereng Kasih

:bersama kas dan temanteman ssg buleleng

Dalam benakku, hatiMu selalu berlatar damainya alam dan keramahan dari hijaunya dedaunan. Juga tarian dahan ditabuh laku angin yang merayu, menghanyutkan jiwa pada kepasrahan yang manja. Tapi hari itu, aku menyusuri dunia yang sama sekali berbeda.

Di sana, pohon-pohon setengah meranggas. Air adalah malaikat dan untuk mereguknya harus dibayar dengan keringat yang tidak tanggung-tanggung. Tak ada tanah basah. Debu-debu mewarnai setiap napas dan wajah-wajah yang berseri (itu adalah bagian hidup mereka yang telah lekat). Dan aku terharu, menyadari kasih itu memang tak pernah memilih di mana ia akan datang. Karena Kau hadir di sana. Tersenyum dalam setiap wajah bocah-bocah polos dan lugu serta raut gadis remaja yang bersaput malu. Kau adalah jiwa, yang menghangatkan setiap kebekuan menjadi temali yang mengalir, menembus sisi-sisi ruang dan mendobrak perbedaan dalam satu rangkaian kasih. Kau adalah pemilik yang utama, yang tiada sanggup dibatasi dimensi apapun.

Bali Post, 18 Februari 2001

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: