Ruang – Ruang

Titipan Pelangi

Kita mengarungi waktu, melihat mentari melangkahi nasib kita meski dari belahan yang berbeda. Sejak kulontarkan sebuah makna tentang persahabatan, sampai kapan pun kau tetap sahabatku.

Apa yang membawa kita bertemu? Mungkin takdir yang kau perjuangkan dengan gigih dan takdir yang sama, yang membawaku hanyut dalam arus medan laga yang tak pernah kubayangkan. Aku tak pernah mimpi dan juga tak pernah kusangka sakitnya lebih dalam daripada harapanku. Tapi aku hanya menjalani sedang kau mungkin sangat menyesali sebab kau tak pernah memimpikan sebuah penyesalan. Dan aku, yang menghiburmu saat kau tertinggal oleh sesuatu yang tak mungkin kau kejar lagi, pada akhirnya juga meniti pelangi di langit sendiri, sepertimu. Dan aku pun semakin memahami sisi lain kehidupan ini.

Aku menatap mentari dari balik gerbang senja dan membayangkan apakah kau telah menyapanya hari ini. Bila tidak, kuingatkan padamu tentang kisah perjalanannya yang lebih panjang dan jauh lebih melelahkan daripada kita, tapi ia tetap sama. Bersinar setiap waktu, mengarungi dunia yang tak pernah kita tahu. Sambutlah jiwa yang dititipkannya padamu. Dan bila sempat kau bercerita, tulislah padaku kisah-kisah dari Negeri Pasir-mu. Pelangi akan menghiburmu senantiasa, dengan duka yang sama dan yang perlu kita kenang. Karena di dalamnya ada makna dari sejuta impian yang pernah kita cita-citakan. Selamat berjuang, Kawan!

Bali Post, 14 Februari 1999

Prosa Angin

;rani

Sayang sekali langkahku terlalu pendek untuk melangkah, menggapai istanamu. Tapi dari cerita angin malam aku bisa tahu bahwa ceriamu begitu lepas menyambut detik-detik terulang dari napas pertamamu.

Kuharap indahnya cemaramu tak terusik hanya karena ketiadaan sosokku di antara riak lambainya. Dari salah satu sudut malam, dapat kurasakan rekah senyummu dan hembusan bahagia saat kau tiupkan harapmu seiring padamnya lilin-lilin usiamu. “Selamat ulang tahun.” Ucapku untukmu yang kutitip pada derai angin yang singgah di pelamunanku. Dan pada bulan yang bersinar penuh hari ini, kusematkan sebaris doa untukmu; semoga langkahmu tak pernah terhenti oleh terik dan hujan, semoga senyummu tak pudar oleh kelamnya malam, dan semoga hatimu senantiasa bersinar, seperti cerahnya fajar diiring senandung riang kicau burung pagi.

Pada bulan yang bersinar penuh hari ini, kuserukan harap akan doaku diterima dalam keabadian sinarnya. Dan bersama ini kuharap senyummu di atas jalan jalan di lalu kita; semoga kau terima.

Bali Post, 14 Februari 1999

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: